Qana’ah: Adalah seorang hamba menerima atau merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada dirinya. Rasulullah صلي الله عليه وسلم memuji sifat yang mulia ini,

« قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»

“Sungguh bahagia orang yang masuk Islam dan dikaruniai rizeki yang cukup, serta Allah  Shubhanahu wa ta’alla menjadikannya merasa cukup dengan apa yang Dia telah karuniakan kepadanya.” [HR. Muslim dari Ibnu Umarرضي الله عنه]

Qadariyah: Salah satu kelompok ahli kalam yang memiliki akidah sesat dalam memaknai qadar, di mana mereka menyandarkan perbuatan para hamba kepada kemampuan mereka semata, dan Allah سبحانه وتعالى tidak memiliki kemampuan, kehendak, maupun qadha dalam hal ini. Sebagaimana mereka juga mengingkari ilmu Allah سبحانه وتعالى.

Qaramithah: Penisbatan kepada seseorang bernama Hamdan Qurmuth, salah seorang yang pertama kali mendakwahkan aliran ini yang kemudian diikuti oleh sekelompok orang, sehingga mereka dinamakan Qaramithah atau Qaramathah (pengikut Hamdan Qurmuth). Mereka mengaku Islam dan menisbatkan diri kepada syi’ah. Mereka tidak mengimani adanya awal penciptaan dan Hari Kebangkitan, tidak mengimani adanya Rabb dan Pencipta, dan tidak mengimani adanya Rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى . Mereka adalah kaum zindiq yang menampakkan diri sebagai kaum syi’ah dan menyembunyikan ilhad tulen.

Qarin: Jin yang selalu menyertai setiap manusia.

Qiila wa qool: Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah, “Banyak bicara tentang perkataan orang lain namun (1) tanpa kroscek, (2) tanpa memastikan, (3) tanpa mencari kejelesan.” (Tafsir Surat An Nisaa’ ayat 82).

Allah membenci seperti itu sebagaimana kata hadits,

وَﻗَﺎلَ َ ﻗِﻴﻞ ْ ﻟَﻜُﻢ ُ وَﻳَﻜْﺮَه

“Allah tidak menyukai qiila wa qool (berkata hanya berlandaskan ‘katanya’).” [HR. Muslim no. 1715, dari Abu Hurairah]

Rafidhah: Orang-orang yang anti dan berlepas diri dari para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم, mencaci maki, mencela, dan mengkafirkan semua sahabat kecuali empat: Ali, Amar, Miqdad, dan Salman رضي الله عنه. Mereka sama sekali bukan dari golongan Islam (As-Sunnah, Imam Ahmad).

Rahn: Secara bahasa, rahn memiliki banyak definisi. Di antaranya adalah habs yang berarti tertahan, terhalang, tercegah, atau yang semakna dengannya. Hal ini senada dengan firman Allah سبحانه وتعالى,

رَﻫِﻴﻨَﺔٌ ْ ﻛَﺴَﺒَﺖ

“Setiap jiwa tertahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang pernah ia perbuat.” [Qs. Al-Mudatstsir: 38]

Definisi lain dari rahn adalah dawam yang bermakna diam atau tetap. Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengumpamakan, jika ada seseorang yang mengatakan air ini rahin, maksudnya air ini diam, tenang, dan tidak mengalir.

Adapun menurut istilah ulama fikih, rahn atau gadai adalah berutang dengan menyerahkan barang sebagai jaminan.

Rawi: Orang yang meriwayatkan hadits.

Rawi Matruk: Perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan, perawi yang banyak melakukan kesalahan dalam suatu hadits yang telah disepakati (keshahihannya), atau perawi yang sering kali meriwayatkan -dari para perawi yang terkenal tsiqah- hadits-hadits yang mana para perawi tsiqah tersebut tidak mengenal hadits itu sendiri. Kadang-kadang diungkapkan dengan, haditsnya matruk.

Ridha: Yaitu merasa cukup dengan sesuatu. Waktunya adalah setelah terjadinya suatu perkara/perbuatan. Ridha dengan qadha/ketentuan Allah adalah termasuk derajat tertinggi orang-orang yang didekatkan (pada Allah). Ridha adalah buah dari rasa cinta dan tawakal. Berdoa pada Allah agar dihindarkan dari sesuatu yang tidak disukai adalah tidak bertentangan dengan ridha dengan hal itu.

Ruqyah: Bacaan-bacaan tertentu untuk menyembuhkan penyakit. Ini dikenal dengan mantra. Bila merupakan bacaan yang disyari’atkan, maka itu adalah ruqyah syari’ah, dan jika tidak maka itu adalah ruqyah bid’iyah atau bahkan bisa menyaji ruqyah syirkiyah.

Sabar: Artinya tidak mengadukan apa yang diderita pada selain Allah dan hanya menyerahkannya pada-Nya.Allah berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُ‌ونَ أَجْرَ‌هُم بِغَيْرِ‌ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Qs. Az-Zumar: 10]

Sabar ada beberapa derajat:

  • Yang paling rendah; Tidak mengeluh tapi diiringi dengan kebencian.
  • Tingkatan pertengahan; Yaitu tidak mengeluh diiringi sikap ridha.
  • Tingkatan paling tinggi adalah; Memuji Allah atas musibah yang menimpa.

Sahabat: Mereka adalah generasi pertama umat Islam, yang hidup di bawah bimbingan Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keislaman.

Salaf: Yakni yang terdahulu. Artinya, generasi pertama umat ini yang mendapatkan rekomendasi sebagai umat terbaik. Mereka adalah para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Menurut bahasa (etimologi), Salaf ( اَلسَّلَفُ ) artinya yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama. Salaf berarti para pendahulu. Jika dikatakan (سَلَفُ الرَّجُلِ) salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.

Menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 212, dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه]

Salafush Shalih: Menurut al-Qalsyani adalah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi صلي الله عليه وسلم dan menjaga Sunnahnya. Allah سبحانه وتعالى memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya صلي الله عليه وسلم dan menegakkan agama-Nya…”

Sanad/isnad: Rangkaian perawi yang menyampaikan matan.

Shaduq: Perawi yang disifati sangat jujur, namun secara urutan lebih rendah derajatnya daripada tsiqah. Jujur masuk dalam kategori ta’dil kelima yang mana pemilik sifat tersebut tidak disandangi sifat seksama. Maka pemilik sifat itu tidak bisa dijadikan hujjah, namun haditsnya dicatat dan perlu diuji keseksamaannya.

Sihir: Sihir yaitu buhul-buhul, mantra-mantra, jampi-jampi yang diucapkan secara lisan, diungkapkan melalui tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati, atau akal orang yang disihir tanpa berinteraksi secara langsung dengannya. Sihir mempunyai hakikat, di antaranya ada yang dapat membunuh, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya, atau memisahkan suami dari istrinya, atau membuat salah satu pihak membenci pasangannya, atau membuat kedua belah pihak saling mencintai.

Sikhriyyah: Perbuatan atau sikap merendahkan dan menghina orang lain. Hal ini sebagaimana terdapat pula dalam hadits Nabi tatkala beliau bersabda, ‘Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’, maksudnya adalah menghina dan menganggap orang lain lebih rendah, dan ini adalah perbuatan haram. Boleh jadi orang yang dihina lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih Allah cintai. Oleh karena itu Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim).

Syadz: Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi tsiqah, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan perawi-perawi yang lebih tsiqah dari pada dirinya. Lawan dari syadz adalah mahfuzh (terjaga).

Syahid: Hadits yang para perawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi atau hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja, dari sahabat yang berbeda. Bentuk jamaknya adalah Syawahid. Ini sering dipakai dalam makna hadits-hadits pendukung.

Hadits ini layak dalam kapasitas syawahid, artinya, dapat diterima apabila ada hadits lain yang memperkuatnya, atau sebagai yang menguatkan hadits lain yang sederajat dengannya.

Syirik: Yaitu menjadikan sekutu bagi Allah سبحانه وتعالى dalam rububiyyah, uluhiyyah, asma’ dan sifat-Nya, atau pada salah satunya. Apabila seorang manusia meyakini bahwa bersama Allah سبحانه وتعالى ada yang menciptakan, atau yang menolong, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah سبحانه وتعالى berhak disembah, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa bagi Allah سبحانه وتعالى ada yang serupa pada asma’ dan sifat-Nya, maka dia seorang musyrik.

Syirik akbar (besar): Syirik yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Syirik Ashghar (kecil): Syirik yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Syukur: Tampaknya bekas kenikmatan Ilahi pada seorang hamba dalam hati, diiringi dengan pujian lisan dan ibadah angota badan. Syukur adalah tujuan sedangkan sabar adalah jalan yang mengantarkan pada (amalan) lainnya. Syukur dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Makna syukur adalah mempergunakan kenikmatan sebagai sarana ketaatan pada Allah.

Ta’wil: Ada tiga pengertian: (1) Tafsifan seperti kata-kata ahli tafsir, “Ta’wil dari Firman Allah…”, artinya tafsiran dari Firman Allah. (2) Hakikat atau kenyataan yang sebenarnya dari suatu perkataan atau berita. Seperti kata-kata ta’wil yang disebutkan di dalam al-Qur’an. (3) Penyimpangan suatu kata dari makna yang sebenarnya (rajih) kepada makna yang marjuh karena adanya alasan yang berkaitan dengannya. Dan inilah yang dimaksud dengan ta’wil yang sering disebutkan dlama pembahasan teologis.

Tabarruj: Seorang wanita bertabarruj, artinya: Dia memperlihatkan perhiasan dan kecantikannya kepada selain suaminya.

Tabi’in: Orang yang bertemu dengan sahabat, dalam keadaan beriman, dan meninggal dalam keislaman. Sedangkan generasi sesudah mereka disebut tabi’ut tabi’in.

Tadabbur

Asy-Syaikh Ibnu Katsir mendefinisikan tadabbur ialah:

  تَفَهُّمُ مَعَانِى أَلْفَاظِهِ ، وَ التَفَكُّرُ فِيْمَا تَدُلُّ عَلَيْهِ آيَاتُهُ مُطَابَقَةً ، وَ مَا دَخَلَ فِى ضَمْنِهَا ، وَ مَا لاَ يَتِمُّ تِلْكَ الْمَعَانِى إِلاَّ بِهِ ، مِمَّا لَمْ يَعْرُجِ اللَّفْظُ عَلَى ذِكْرِهِ مِنَ اْلإِشَارَاتِ و التَّنْبِيْهَاتِ ، وَ انْتِفَاعُ الْقَلْبِ بِذَلِكَ بِخُشُوْعِهِ عِنْدَ مَوَاعِظِهِ ، وَ خُضُوْعِهِ لأَوَامِرِهِ ، وَ أَخْذِ الْعِبْرَةِ مِنْهُ 

Memahami makna lafal-lafal Al-Qur’an, dan memikirkan apa yang ayat-ayat Al-Qur’an tunjukkan tatkala tersusun, dan apa yang terkandung di dalamnya, serta apa yang menjadikan makna-makna Al-Qur’an itu sempurna, dari segala isyarat dan peringatan yang tidak tampak dalam lafal Al-Qur’an, serta pengambilan manfaat oleh hati dengan tunduk di hadapan nasehat-nasehat Al-Qur’an, patuh terhadap perintah-perintahnya, serta pengambilan ibrah darinya. [Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim]

Tadlis: Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadits, dan membaguskannya secara zahir.

Tathoyyur: Anggapan akan terjadinya sesuatu hal (kesialan) karena adanya pertanda tertentu. Hal ini bahkan mungkin terjadi pada saat kita mendidik anak, apakah disengaja bermaksud demikian atau tidak.

Thaghut: Setiap yang diagungkan -selain Allah- dengan disembah, atau ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, atau setan.

Thaharah: Secara bahasa (etimologi) thaharah berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah (terminologi) ia bermakna menghilangkan hadats dan najis. Atau  mensucikan diri dari segala macam sifat/ perangai/ akhlak/ perilaku yang kotor/ tidak terpuji.

Tahqiq: Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.

Tahrif: Menyelewengkan suatu nash dari al-Qur’an atau hadits dengan merubah lafazhnya atau membelokkan maknanya dari makna yang sebenarnya. Atau merubah lafazh Nama dan Sifat Allah سبحانه وتعالى, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.

Thiyarah: Merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena
(usaha) kami” . Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” [Qs. Al A’raaf: 131]

Tajsim: Menetapkan sifat jasmaniah bagi Allah سبحانه وتعالى.

Takhrij: Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dha’if.

Taklid: Mengikuti suatu keyakinan atau paham atau pendapat tanpa mengetahui dasar, hujjah, atau alasannya.

Takyif: Mempertanyakan bagaimana sifat Allah, atau menentukan bahwa hakikat sifat Allah itu begini dan begitu.

Ta’liq: Komentar atau penjelasan tentang suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagainya, yang biasanya berbentuk catatan kaki.

Tamimah: Sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang, dan sebagainya.

Tamtsil: Menyamakan Allah dengan selainNya, baik dzat maupun sifat, dan sebaliknya.

Tasybih: Menyerupakan Allah dengan selainNya, baik dzat maupun sifat, dan sebaliknya.

Tathayyur/Thiyarah: Berasal dari kata tha’ir yang berarti burung. Pada asalnya adalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliyah dahulu, di mana apabila salah seorang dari mereka keluar untuk suatu perkara, maka dia berpatokan pada burung tersebut; apabila dia melihat burung tersebut terbang ke kanan, maka dia akan pergi, sedangkan apabila dia melihat burung tersebut terbang ke kiri, maka dia meramalkan kesialan sehingga tidak jadi pergi. Akan tetapi penggunaannya lebih umum daripada itu, yakni; berfirasat buruk; merasa bernasib sial; atau meramal nasib karena melihat burung, binatang lain, atau apa saja.

Ta’thil: Mengingkari seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah. Perbedaannya dengan tahrif adalah: bahwa ta’thil tidak mengakui makna sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash dari al-Qur’an atau hadits, sedangkan tahrif ialah merubah maknanya atau memberikan tafsiran yang menyimpang dari makna sebenarnya yang dikandung oleh nash tersebut.

Tauhid al-Ilmi al-Khabari: Mentauhidkan Allah dengan mengetahui apa yang wajib diketahui bagi Allah berdasarkan berita yang dibawa al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tauhid al-Iradi ath-Thalabi: Mentauhidkan Allah dengan mengetahui bahwa permintaan dan kehendak atas segala sesuatu hanya kepada Allah semata.

Tauhid al-Ma’rifah wa al-Itsbat: Mentauhidkan Allah dengan mengenal dan menetapkan yang wajib bagi dari Allah.

Tauhid ath-Thalab wa al-Qashd: Bertauhid dengan meminta pahala dan kebaikan dari Allah, dan menjadikannya sebagai tujuan dan niat.

Tauqifiyah: Hanya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tawadhu’:

  • Engkau merendah dan tunduk kepada kebenaran. Jika engkau mendengarnya dari seorang bocah engkau menerimanya, bahkan walaupun engkau mendengar kebaikan itu dari orang yang paling bodoh sekalipun engkau mau menerimanya.”(Al-Imam Fudhai bin ‘Iyadh – Hilyatul Auliya: III/329)
  • Tatkala engkau keluar dari rumahmu dan tidaklah engkau menjumpai seorang muslim pun kecuali engkau menganggap dia lebih utama dibandingkan dirimu.” (Imam Hasan al-Bashri – Al-Ihyaa’: III/28)

Tawakal: Yaitu sikap hati yang berserah dan bergantung pada Allah untuk mendapatkan segala yang diinginkan serta menolak apa yang tidak diinginkan disertai dengan sikap bergantung pada Allah dan melakukan sebab-sebab yang disyareatkan. Hati yang hampa dari kebergantungan (pada Allah) adalah
merupakan celaan terhadap tauhid. Sebaliknya, tidak melakukan usaha menunjukkan kelemahan dan kurang akal. Tawakkal waktunya adalah sebelum melakukan perbuatan. Tawakal adalah buah dari keyakinan.

Thabaqah: Secara bahasa artinya generasi setelah generasi atau suatu kaum yang seangkatan dalam umur dan masa. Juga dipakai dalam arti tingkatan dan derajat. Sedangkan menurut istilah ilmu hadits, thabaqah ialah suatu sebutan di kalangan para ahli hadits tentang suatu kelompok yang memiliki kesamaan dalam umur dan pertemuan mereka dengan para syaikh.

Tilawah: Sesuatu yang dibuat oleh tukang sihir dan semisalnya dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat membuat seorang istri mencintai suaminya atau seorang suami mencintai istrinya.

Tsabit: Tetap, pasti benar, sah dijadikan dalil.

Tsiqah: Perawi yang kredibel, karena mempunyai dua kriteria: Pertama, adil, yaitu memiliki kriteria; Islam, baligh, berakal sehat, takwa dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik. Dalam definisi lain, perawi yang adil ialah yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidka terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil. Kedua, keseksamaan (dhabt) dalam hafalan dan tulisan.

Ulama akhirat: Yaitu mereka menganggap dunia itu hina dan akhirat itu mulia. Keduanya bagaikan dua kebutuhan pokok, tetapi mereka lebih mementingkan akhiratnya. Perbuatan mereka tidak bertentangan dengan perkataan. Kencenderungan mereka pun lebih kepada ilmu-ilmu yang bermanfaat di akhirat, dan mereka menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit manfaatnya, karena lebih mementingkan ilmu yang lebih besar manfaatnya.

Ulama suu’: Orang-orang yang mempelajari suatu ilmu agama untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan mendapatkan kedudukan di hati orang lain.

Ulul azmi: Mereka adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم. mereka disebut sebagai ulul azmi karena memiliki keteguhan hati dan kesabaran luar biasa yang tidak dimiliki oleh selain mereka.