Ma`tsur: Sesuatu yang ada riwayat (contohnya) dari Nabi صلي الله عليه وسلم.

Mahabbah: lihat Al-Mahabbah”

Mahfuzh: (Matan) hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi tsiqah yang bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih rendah darinya. Mahfuzh adalah lawan dari syadz.

Majhul: Perawi yang tidak dikenal jati dirinya atau keadaannya, yaitu perawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang saja.

Manhaj: Mencakup dalam hal akidah, perilaku/suluk, akhlak, mu’amalah, bahkan ia meliputi segala sisi kehidupan seorang muslim. Setiap garis ketentuan yang harus dipatuhi oleh seorang muslim maka itu disebut dengan manhaj.

Maqthu’: Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan atau perbuatan, baik sanadnya bersambung atau terputus.

Marfu’: Riwayat yang disandarkan kepada Nabi صلي الله عليه وسلم, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; baik sanadnya bersambung atau terputus.

Ma’rifat: Pengetahuan.

Ma’shum: Orang yang suci (terpelihara) dari kesalahan dan dosa.

Matan: Ucapan yang ada diakhir sanad. Misalnya, Diriwayatkan dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم, bahwa beliau bersabda إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ Sesungguhnya amalan itu hanya tergantung dengan niat. Ucapan Nabi صلي الله عليه وسلم itu disebut dengan matan (isi) hadits.

Maula: Bentuk jamaknya mawali. Apabila dinisbatkan kepada perorangan, seperti maula Ibnu ‘Abbas, maka artinya; mantan sahaya Ibnu ‘Abbas. Dan apabila dinisbatkan kepada suatu komunitas atau kabilah, maka maksudnya adalah seseorang yang bukan asli dari suatu kabilah tersebut, maka dia dinisbatkan kepada kabilah bersangkutan secara wala` (dengan diimbuhkan kata maula pada namanya, dan bukan menunjukkan keturunan dari anggota kabilah tersebut).

Mauquf: (Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat, baik berupa perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada Nabi صلي الله عليه وسلم, baik sanadnya tersambung atau terputus.

Mu’allaq: (Hadits) yang sanadnya terbuang dari awal, satu perawi yang atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.

Mu’asharah: Hidup sezaman. Mu’ashir adalah orang yang hidup sezaman.

Mu’aththilah: Kelompok sesat yang menolak Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Di antara mereka ada yang mengingkari Nama-nama dan Sifat-sifat Allah, seperti Jahmiyah; ada yang mengingkari Sifat-sifat Allah saja, seperti Mu’tazilah; ada yang mengingkari sebagian Sifat dengan tetap menetapkan Nama-nama Allah, seperti Asya’irah; ada yang terjerumus dalam sikap tafwidh (menyerahkan lafaz, makna dan kaifiyah Sifat hanya kepada Allah); dan ada juga yang menyifati Allah dengan sifat-sifat yang saling bertolak belakang, yang kesemuanya mereka lakukan dengan alasan untuk menghindari dan penyerupaan Allah dengan makhluk.

Mubham: Perawi yang tidak diketahui identitasnya.

Mudallis: Perawi yang melakukan tadlis.

Mu’dhal: (Hadits) yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih yang terbuang secara berturut-turut.

Muhkamat: Ayat-ayat yang muhkamat maksudnya ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Lawannya adalah mutasyabihat.

Mulhid: Atheis.

Munqathi’: (Hadits) yang ditengah sanadnya ada satu orang rawi atau lebih yang terputus, secara tidak berurutan.

Murji’ah: Kelompok sesat yang mengklaim bahwa iman hanyalah pengakuan dalam hati; keimanan di antara manusia tidak memiliki perbedaan maupun tingkatan; iman mereka dengan para malaikat dan para nabi adalah sama; iman tidak bertambah dan tidak berkurang; barangsiapa yang beriman dengan lisannya dan tidak merealisasikan keimanan tersebut, maka dia adalah seorang mukmin hakiki.

Mursal: Hadits yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya yaitu pada sahabat, sebelum tabi’in. Gambarannya adalah, apabila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “…”, atau, “Rasulullah صلي الله عليه وسلم melakukan ini dan itu…”

Muta’akhirin: Para ulama belakangan, yaitu mereka yang hidup dimasa, kurang lebih, setelah abad keempat hijriyah.

Mutaba’ah: Hadits yang mana para perawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para perawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.

Mutaqaddimin: Para ulama terdahulu, yaitu mereka yang hidup dari masa sahabat hingga masa abad keempat hijriyah.

Mu’tazilah: Suatu kelompok rasionalis yang sesat, dan menyelisihi pendapat umat Islam dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang diprakarsai oleh Washil bin Atha’ dan Amru bin Ubaid pada zaman al-Hasan al-Bashri.

Nadzar: Janji seorang mukallaf dengan kemauan sendiri untuk mewajibkan sesuatu atas dirinya yang sebenarnya tidak wajib secara syar’i.

Nasakh: Menghapus hukum syar’i dengan dasar dalil yang datang belakangan darinya.

Nash: Sesuatu yang hanya memiliki satu indikasi makna. Sesuatu yang tidak mengandung takwil.

Niat: Satu makna dengan keinginan dan maksud. Tidak sah dan tidak diterima suatu amalan tanpa disertai niat. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya tiap-tiap amalan itu tergantung pada niatnya dan seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” [Muttafaq ‘Alaihi]

Nusyrah: Tindakan untuk menyembuhkan atau mengobati orang yang terkena sihir dengan mantera atau jampi.

Penyakit ‘ain: Pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui matanya.

Advertisements