Ibadah: Secara bahasa (etimologi), berarti tunduk dan merendahkan diri, sedangkan menurut syara’ (terminologi), memiliki beberapa definisi, antara lain. Ibadah adalah taat kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

Ijtihad: Usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ulama untuk mencapai suatu putusan (kesimpulan) hukum syari’at mengenai kasus tertentu yang penyelesaiannya belum tertera dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Ilhad: Sikap pengingkaran terhadap adanya Tuhan. Dan sering kali yang dimaksud dengannya adalah aliran filsafat yang berdasarkan pengingkaran terhadap keberadaan Allah سبحانه وتعالى.

Illat: Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadits yang dapat merusak keshahihannya.

Imaduddin Ibnu Katsir: Imaduddin adalah gelar Imam Ibnu Katsir, yang bermakna: tiang agama.

Iman: Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, iman secara bahasa adalah pengakuan yang melahirkan sikap menerima dan tunduk. Kata beliau makna ini cocok dengan makna iman dalam istilah syari’at. Dan beliau mengkritik orang yang memaknai iman secara bahasa hanya sekedar pembenaran hati (tashdiq) saja tanpa ada unsur menerima dan tunduk.

Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, dan segenap ulama ahli hadits serta ahlul Madinah (ulama Madinah) –semoga Allah merahmati mereka- demikian juga para pengikut madzhab Zhahiriyah dan sebagian ulama mutakallimin berpendapat bahwa definisi iman itu adalah : pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Para ulama salaf –semoga Allah merahmati mereka- menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang.

‘Iman itu berupa pembenaran hati’ artinya hati menerima semua ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Pengakuan dengan lisan’ artinya mengucapkan dua kalimat syahadat ‘asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’. Sedangkan ‘perbuatan dengan anggota badan’ artinya amal hati yang berupa keyakinan-keyakinan dan beramal dengan anggota badan yang lainnya dengan melakukan ibadah-ibadah sesuai dengan kemampuannya. (Lihat Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9)

Inabah: Perasaan ingin kembali setelah berbuat dosa dan maksiat yang kemudian diikuti dengan taubat. Inabah kepada Allah artinya kembali dan bertaubat kepada Allah.

Inqitha’: Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.

Iradah: Kehendah.

Iradah Kauniyah: Kehendak Allah yang pasti terjadi, sekalipun Allah tidak mencintai dan meridhainya.

Iradah Sya’riyah: Kehendak Allah yang didasari oleh cinta dan ridhaNya.

Isti’adzah: Al-Isti’adzah atau isti’adzah artinya memohon perlindungan dan penjagaan dari hal yang dihindari. Dalil dari isti’adzah adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ : “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh’.” [Qs. Al-Falaq: 1] serta قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ : “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang memelihara dan menguasai manusia’.” [Qs. An-Nas: 1].

Istidraj: Anugerah atau rizki yang diberikan Allah kepada orang yang berbuat maksiat, di mana pemberian seperti itu secara bertahap akan berakhir dengan petaka dan kesengsaraan, jika orang tersebut tidak bertaubat.

Istighatsah: Memohon pertolongan kepada Allah ketika ditimpa bencana, musibah, kesulitan, dan sebagainya.

Istirja’: Mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali).

Itsbat: Penetapan.

Jabriyah: Kelompok sesat yang menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan.

Jahiliyah: Kebodohan akan Agama, yaitu suatu zaman kejahilan yang ciri utamanya adalah mengagungkan selain Allah dengan disembah, dipuja, dipatuhi, dan ditaati. Ciri lainnya kebobrokan mental, kerusakan akhlak, merajalelanya kejahatan, sebagaimana zaman sebelum datangnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم.

Jahmiyah: Golongan sempalan yang merupakan para pengikut Jahm bin Shafwan yang bermazhab sesat. Salah satu poin akidah mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan mazhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Dan dalam masalah keimanan, mereka menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah bahwa pekalu dosa besar adalah mukmin yang sempurna imannya.

Jizyah: Upeti yang harus dibayar oleh pihak kafir dzimmi kepada Negara Islam, atas segala perlindungan dan ketentraman yang diberikan oleh kaum Muslimin.

Jumhur: Mayoritas.

Kaffarat: Denda yang harus dibayar karena melanggar larangan Allah atau melanggar janji; sebagai penutup, penebus, dan penghapus dosa-dosa.

Kalimat ikhlas: Kalimat La ilaha Illallah.

Karamah: Kejadian luar biasa yang Allah yampakkan melalui tangan sebagian hamba-hambaNya yang shalih, yang berpegang teguh dengan syari’at, sebagai pemuliaan dan penghargaan dari Allah سبحانه وتعالى kepada mereka.

Karramiyah: Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram as-Sijistani yang bermazhab tasybih dan tajsim.

Kasysyaf: Istilah sufi, yaitu tersingkapnya hijab yang menjadi penghalang antara manusia dengan alam ghaib, sehingga para pengikut sufi bisa melihat dan mengetahui hal-hal ghaib dengan jelas. Mereka meyakini bahwa jika sampai pada derajat kasysyaf, maka mereka dapat mengetahui hal-hal yang gelap, rahasia-rahasia yang tersembunyi dan mencerahkan segala persoalan pelik.

Tetapi pada hakikatnya bahwa itu hanyalah merupakan taslbis iblis dalam rangka menyesatkan manusia.

Khalaf: Yakni yang datang belakangan, mereka adalah generasi ulama Islam yang hidup sesudah masa ulama salaf.

Khalil: Khalilurrahman atau khalilullah ialah hamba pilihan dan kekasih Allah. Hanya ada dua orang yang dijuluki sebagai khalilullah, yaitu Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم.

Khauf: Takut atau gundah, yaitu reaksi atas munculnya kekhawaritan akan terjadi sesuatu yang membahayakan, menghancurkan, atau menyakitkan. Allah melarang takut terhadap pengikut setan dan memerintahkan hanya takut kepadaNya. Takut kepada Allah merupakan sifat dari orang bertakwa, dan ia juga merupakan bukti beriman kepada Allah.

Khasyyah: Rasa takut seorang hamba yang dilandasi dengan pengetahuan terhadap kebesaran Dzat yang ditakuti dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Meski arti khasyyah sama dengan khauf (rasa takut), namun khasyyah lebih khusus maknanya daripada khauf. Untuk membedakannya bisa diilustrasikan sebagai berikut: Jika Anda takut kepada seseorang tapi Anda tidak tahu apa memang dia mampu mencelakakan Anda atau tidak, maka ini termasuk khauf. Namun bila Anda mengetahui secara pasti bahwa orang tersebut dapat mencelakakan Anda, maka ini masuk kategori khasyyah.

Khawarij: Kelompok ahli bid’ah sesat yang pertama kali membelot dari jama’ah Muslimin. Mereka mengkafirkan Utsman dan Ali رضي الله عنه, mengkafirkan para hakim dan setiap yang rela dengan tahkim. Mereka juga mengkafirkan para pelaku dosa besar serta berpandangan bolehnya memberontak terhadap penguasa yang menyelisihi sunnah.

Khusyu’: Yaitu pengagungan, hancur luluhnya hati dan kehinaan. Berkata Hudzaifah رضي الله عنه : “Berhati-hatilah kalian dari khusyu’ yang nifak. Lalu beliau ditanya: “Apa itu khusyu’ yang nifak ?” Beliau menjawab: “Engkau dapatkan padalahirnya ia tampak khusyu’, padahal hatinya tidak demikian.” Beliau berpesan juga: “Yang pertama kali akan sirna dari urusan agama kalian adalah kekhusyu’an. Segala ibadah yang disyari’atkan padanya khusyu’, maka pahalanya bergantung sejauh mana kekhusyu’annya. Seperti shalat, Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda perihal orang yang shalat bahwa tidak didapatkan dari shalatnya melainkan setengahnya, seperempatnya, seperlima, ….. sepersepuluhnya. Bahkan bisa jadi ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya karena ia sama sekali tidak khusyu’.

Kitab al-Musnad: Kitab hadits yang ditulis berdasarkan urutan para sahabat yang meriwayatkan hadits, seperti Musnad Ahmad bin Hanbal.

Kitab ash-Shahih: Kitab hadits yang penulisnya menganggap hanya menyantumkan hadits-hadits shahih di dalamnya.

Kitab as-Sunan: Kitab hadits yang mencantumkan hadits-hadits berdasarkan bab fikih; thaharah, shalat, dan seterusnya.

Kunyah: Nama panggilan untuk kehormatan yang diawali dengan kata Abu (bapak), Ummu (ibu), atau Ibnu (anak), seperti: Abu Abdullah, Ummu Salamah, Ibnu Umar, dan lain-lain.

La ba`sa bihi: Secara bahasa artinya tidak mengapa. Dalam istilah ahli hadits, ia adalah predikat bagi rawi tingkat kelima, setelah tingkatan tsiqah. Rawi yang dinyatakan “La Ba`sa Bihi“, riwayatnya tidak diterima secara otomatis, akan tetapi dicatat dan diriwayatkan lalu diteliti, apakah ada indikasi untuk diterima atau ditolak.

Perlu dicatat: Sebagian ulama mutaqaddimin menggunakan La Ba`sa Bihi tetapi maksudnya adalah tsiqah, dan ini diririwayatkan dari Ibnu Ma’in dan lainnya.

Layyin: Lemah. Yaitu martabat jarh yang tertinggi. Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah, akan tetapi haditsnya diriwayatkan untuk dikaji.

Lidzatihi: Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah, hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.

Lighairihi: Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya: Shahih Lighairihi, ialah hadits yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain, maka dia menjadi Shahih Lighairihi.