Fai’: Harta rampasan yang diperoleh kaum Muslimin tanpa melalui perang.

Fana’: Dalam istilah sufi, fana’ adalah tingkatan seorang hamba yang tidak lagi melihat perbuatannya sebagai yang berdiri sendiri, karena Allah-lah yang melakukannya. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.

Filsafat Dahriyah: Dahriyah dari segi bahasa berasal dari (addahru) yang masa. Maka ad-Dahriyah adalah keyakinan atau aliran filsafat yang pokok keyakinannya adalah, bahwa eksistensi alam dan manusia hanya karena masalah waktu (masa). Benda ini bergerak, atau si fulan mati hanya karena memang telah waktunya untuk mati, dan tidak tidak ada sangkut pautnya dengan adanya Pencipta. Ini sejalan dengan atheisme.

Futur: Rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan semangat. Dalam kamus Lisanul ‘Arab, futur didefinisikan,

سكن بعد حدّة ولانَ بعد شدة

“diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”

Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran.

Fuqaha`: Ulama-ulama fikih.

Ghanimah: Harta rampasan yang diperoleh kaum Muslimin melalui pertempuran.

Ghibah:  Imam Tahanawi menjelaskan: “Ghibah ialah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan perkara yang ia benci kalau seandainya berita tersebut sampai padanya, baik engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada tubuh atau pada lisannya. Demikian pula tatkala engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada postur tubuh, kelakuanya, ucapan, agama, harta, anak, pakaian, rumah atau kendaraanya. Jadi, ghibah itu tidak khusus hanya terpaku pada ucapan saja, namun, ghibah juga bisa berlaku pada perbuatan, yaitu dengan menirukan gerakan tubuhnya atau menggunakan isyarat maupun dengan tulisan.” [Kasyaaf  Isthilahaat al-Funun 3/1091]

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” [HR. Muslim no. 2589]

Ghuluw: Sikap berlebih-lebihan (ekstrim) dan melampaui batas.

Had/Hudud: Hukuman dalam syari’at Islam yang telah memiliki ukuran dan bentuk baku.

Hadits Ahad: Hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir.

Hadits Dha’if: Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits maqbul (yang diterima dan dapat dijadikan hujjah), disebabkan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.

Hadits Gharib: Hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi dalam salah satu periode rangkaian sanadnya.

Hadits Hasan: Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan memiliki hafalan yang keseksamaannya sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.

Hadits Masyur: Hadits yang diriwayatkan tiga orang atau lebih dalam setiap periode selama belum mencapai derajat mutawatir.

Hadits Matruk: Hadits yang di dalam sanadnya terdapat perawi yang tertuduh berdusta.

Hadits Maudhu’: Hadits palsu dan dibuat-buat yang dinisbahkan kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, yang dalam sanadnya terdapat rawi yang dinyatakan sebagai pendusta.

Hadits Mudhtharib: Mudhthrib dari segi bahasa berarti, goncang. Dan Hadits Mudhtharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi atau lebih dalam berbagai versi riwayat yang berbeda-beda, yang mempunyai kekuatan yang sama yang tidak dapat di-tajrih dan tidak mungkin dipertrmukan antara satu dengan lainnya.

Hadits Mudraj: Hadits yang di dalamnya terdapat tambahan yang bukan darinya, baik dalam matan atau sanadnya.

Hadits Munkar: Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang dha’if dan riwayatnya bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqah.

Hadits Mutawatir: Hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi dalam setiap thabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.

Hadits Shahih: Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan dan catatan yang akurat) dari perawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.

Hanif: Agama yang lurus. Setiap orang yang berpegang teguh kepada ajaran Islam yang bersih dari syirik dan lurus, maka dia juga disebut orang yang hanif. Terkadang yang dimaksudkan adalah setiap pengikut ajaran Nabi Ibrahim عليه السلام, sebelum diutusnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم.

Hijrah (hijroh)

Ibnu Hajar rohimahullah mengatakan,

الهجرة الترك و الهجرة إلى الشيء : الانتقال إليه عن غيره، و في الشرع ترك ما نهى الله عنه.

” Hijroh maknanya meninggalkan, hijroh menuju sesuatu artinya pindah/meninggalkan dari suatu menuju sesuatu yg lainnya. Hijroh dalam istilah syar’i artinya meninggalkan apa yg Allah larang.” [Fathul Baari hal. 42/II]

Hujjah: Dalil dan bukti nyata. Hujjah merupakan dasar dan sandaran yang dijadikan pegangan dalam berkeyakinan dan beramal.