Ahlul Haq: Orang-orang yang mengikuti dan berpegang teguh kepada kebenaran.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah  صلي الله عليه وسلم dan para Sahabatnya رضي الله عنه. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم dan para Sahabatnya رضي الله عنه.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama.

Akidah: Merupakan pokok keimanan, makna kedua kalimat syahadat serta konsekuensi dari keduanya.

Al-‘Adalah: Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan banyak orang. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik. Dalam definisi lain, rawi yang adil ialah: yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa-dosa kecil.

Al-‘Allamah: Gelar bagi seorang ulama yang memiliki murid-murid yang juga menjadi ulama.

Al-Hafizh: Seorang ulama yang memperlajari hadits dan berbagai ilmu yang berkenaan dengannya, di mana yang ia ketahui berupa hadits-hadits dan illat-illatnya lebih banyak daripada yang tidak dia ketahui.

Ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang menghafal dan memahami satu juta hadits. Al-Hafizh lebih tinggi derajatnya daripada al-Muhaddits.

Al-Jarh wa at-Ta’dil: Al-Jarh adalah celaan atau kritik yang dialamatkan kepada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al-‘Adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari dirinya, dan at-Ta’dil adalah pernyataan adanya al-‘Adalah dan hafalan yang bagus pada seorang rawi hadits.

Al-Mahabbah: Dengan cinta pada Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, kelezatan iman akan didapatkan. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda :

“Ada tiga perkara, siapa yang terkumpul pada dirinya maka ia akan merasakan kelezatan iman. Yaitu bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, agar seseorang tidak dicintai kecuali karena Allah dan agar ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.” [Muttafaq ‘Alaihi]

Ada empat jenis mahabbah:

  1. Mahabbatullah (cinta pada Allah), inilah pokok dari keimanan.
  2. Cinta dan benci karena Allah. Hukumnya adalah wajib.
  3. Cinta bersama Allah, ini sama artinya dengan menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam cinta yang wajib, seperti cintanya orang-orang musyrik pada tuhan-tuhan mereka. Ini adalah pokok dari kesyirikan.
  4. Cinta yang alami, seperti cinta pada kedua orang tua, anak dan makanan. Ini adalah diperbolehkan. Jika anda ingin dicintai Allah, maka zuhudlah di dunia.

Al-Muhaddits: Seorang ulama yang menyibukkan diri dengan memperlajari hadits-hadits Nabi صلي الله عليه وسلم, baik secara ilmu riwayat maupun dirayat, serta mengetahui mayoritas para rawi dan riyawat-riwayat beserta kondisinya.

Amil (zakat): Orang yang bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.

An’anah: Menyampaikan hadits kepada perawi lain dengan lafaz عن (dari) yang mengisyaratkan bahwa dia tidak mendengar langsung dari syaikhnya. Ini menjadi illat suatu sanad hadits apabila digunakan oleh seorang perawi yang mudallis.

Ashhab as-Sunan: Para penulis kitab-kitab Sunan, yaitu: Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, Imam Abu Dawud, dan Imam Ibnu Majah رضي الله عنه.

Ash-Shahihain: Dua kitab shahih yaitu: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Ash-Shidq (benar/jujur): Adalah pokok dari seluruh amalan hati. Lafadz ash-shidq digunakan dalam enam makna :

  1. Benar dalam ucapan.
  2. Benar dalam keinginan dan maksud (ikhlas)
  3. Benar dalam tekad
  4. Benar dalam janji
  5. Benar dalam amalan sehingga lahiriahnya bersesuaian dengan batinnya, seperti khusyu’ dalam shalat.
  6. Benar dalam seluruh perkara agama. Inilah derajat yang tertinggi dan termulia. Seperti benar dalam rasa takut, harapan, pengagungan, zuhud, ridha, tawakal, rasa cinta dan seluruh amalan hati lainnya. Maka barangsiapa yang memiliki sifat benar dalam segala perkara di atas, maka ia adalah “siddiq” (yang membuktikan ucapan dengan perbuatannya).

Asy’ariyah/Asya’irah: Orang-orang yang menisbatkan diri kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari, yaitu Ali bin Isma”il al-Asy’ari, wafat 330 H. Beliau telah mengalami tiga fase dalam akidah: sebagai mu’tazilah selama 40 tahun, kemudian fase antara madzhab mu’tazilah dengan Ahlus Sunnah, baru kemudian beliau berakidah as-Salaf ash-Shalih, yang beliau nyatakan dalam kitabnya yang terakhir, al-Ibanah. Di dalam kitab tersebut beliau menjelaskan bahwa beliau berkeyakinan seperti akidah imam Ahlus Sunnah, imam Ahmad bin Hanbal, dan imam lainnya, yaitu menetapkan nama-namadan sifat-sifat yang ditetapkan Allah untuk DiriNya dan ditetapkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم untukNya, sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya, tanpa takyif, tamtsil, tahrif, atau ta’wil. Dan orang-orang yang menisbatkan diri kepada beliau (al-Asya’irah) tersebut tetap pada akidah beliau sebelum berpindah kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu keyakinan beliau pada tahap kedua.

Asy-Syaikhain: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Atsar: Artinya adalah riwayat. Lebih sering digunakan untuk riwayat yang berasal dari para sahabat, tidak sampai kepada Nabi صلي الله عليه وسلم. Namun, terkadang juga bermakna sama dengan hadits.

Bara’: Sikap anti dan berlepas diri dari pihak tertentu dengan membenci, memusuhi, dan memerangi.

Bashirah: Pengetahuan yang mendalam.

Dalil: Keterangan dari nash yang dijadikan sebagai bukti atau alasan untu suatu kebenaran.

Dalil aqli: Dalil yang bersifat kesimpulan akal dan nalar.

Dalil naqli: Dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah.