Search

Risalah

Kajian Islam

Category

Hari Kiamat

Beriman kepada Hari Akhir: Hari Kebangkitan

Yang dimaksud dengan kebangkitan adalah dikembalikannya arwah kepada jasad sehingga manusia kembali hidup. Akan digoncangkan bumi dengan segoncang-goncangnya. Akan terbuka kubur manusia.

Kemudian, keluarlah semua manusia dari kuburnya dalam keadaan hidup.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا (١) وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا (٢) وَقَالَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مَا لَهَا

“Apabila bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya. Dan bumi mengeluarkan beban-bebannya. Dan berkatalah manusia, mengapa bumi menjadi begini?” [Qs. Al Zalzalah: 1-3] Continue reading “Beriman kepada Hari Akhir: Hari Kebangkitan”

Perjalanan abadi itu berawal dari alam kubur (2)

Haudh (Telaga)

(baca tulisan sebelumnya) Kemudian orang-orang mukmin mendatangi haudh (telaga). Siapa meminum darinya maka tidak akan pernah merasa haus selamanya. Setiap nabi mempunyai haudh (telaga), yang paling agung adalah haudh Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari minyak kasturi. Bejananya terbuat dari emas dan perak, dan jumlahnya seperti bilangan bintang. Panjangnya lebih jauh dari jarak antara Kota Ailah di Yordania dan Kota Aden di Yaman. Airnya mengalir dari Sungai al-Kautsar.

Continue reading “Perjalanan abadi itu berawal dari alam kubur (2)”

Perjalanan abadi itu berawal dari alam kubur

Alam Kubur merupakan awal persinggahan menuju ke akhirat. Ia merupakan lubang neraka bagi orang kafir dan orang munafik, namun merupakan taman bagi orang mukmin. Ada siksa di dalam kubur atas beberapa maksiat, seperti: tidak membersihkan diri dari air kencing, mengadu domba, berkhianat dalam hal rampasan perang, dusta, tidur melalaikan shalat, tidak membaca Al-Qur’an, berzina, homoseksual, riba, tidak membayar hutang dan sebagainya. Yang dapat menyelamatkan dari siksa kubur adalah: amal saleh yang ikhlas karena Allah, berlindung kepada Allah dari siksa kubur, membaca Surat Al-Mulk dan sebagainya. Yang dilindungi dari siksa kubur adalah: orang yang mati syahid, orang yang menjaga perbatasan dari musuh, orang yang meninggal pada hari Jum’at, orang yang meninggal karena menderita sakit perut, dan sebagainya.

Continue reading “Perjalanan abadi itu berawal dari alam kubur”

Perkara kelima dari apa-apa yang terjadi di hari Kiamat (3)

(Baca tulisan sebelumnya) Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه اللة (mengutip firman Alah سبحانه وتعالى ):

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Barangsiapa yang berat timbangan amalannya maka merekalah orang yang beruntung.” [Qs. Al-Mu’minuun: 102]

Continue reading “Perkara kelima dari apa-apa yang terjadi di hari Kiamat (3)”

Perkara kelima dari apa-apa yang terjadi di hari Kiamat (2)

(Baca tulisan sebelumnya) Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه اللة :

فَتُوزَنُ بِهَا أَعْمَالُ الْعِبَادِ

“Maka ditimbanglah dengannya amalan-amalan hamba”

Dari perkataan Ibnu Taimiyah رحمه اللة ini jelaslah bahwa yang ditimbang adalah amalan-amalan hamba. Dan di sana ada dua pembahasan:

  1. Pembahasan pertama:

Bagaimana ditimbangnya amalan-amalan, sementara amalan adalah sifat yang berada pada pelakunya dan bukanlah sesuatu yang berwujud? Maka jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwasanya Allah سبحانه وتعالى akan menjadikan amalan-amalan tersebut berwujud memiliki jasad, yang demikian itu tidak mengherankan atas kekuasaan Allah تعالى. Yang demikian itu ada permisalannya yaitu Al-Maut (kematian) sesungguhnya nanti Al-Maut itu akan dijadikan seperti bentuk domba dan disembelih di antara surga dan neraka padahal sebelumnya maut adalah sekedar makna yang tidak berjasad (berbentuk) dan bukanlah yang disembelih adalah malaikat maut, tapi maut itu sendiri, ketika Allah تعالى menjadikan maut tersebut menjadi memiliki jasad dan bisa disaksikan dan dilihat. Demikian pula amalan-amalan, Allah تعالى akan menjadikannya memiliki jasad yang bisa ditimbang dalam timbangan yang nyata.

  1. Pembahasan kedua:

Jelasnya perkataan penulis bahwasanya yang ditimbang adalah amalannya, sama saja apakah amalan kebaikan ataukah amalan kejelekan. Dan ini adalah dzahir Al-Quran seperti firman Allah سبحانه وتعالى :

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (٦) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacammacam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) amalan mereka. Maka barangsiapa yang beramal kebaikan sebiji dzarah maka dia akan melihatnya (balasannya) dan barangsiapa yang beramal sebiji dzarah kejelekan dia akan melihatnya (balasannya).” [Qs. Al-Zalzalah: 68]

Maka di sini jelaslah bahwa yang ditimbang adalah amalannya, sama saja apakah amalan kebaikan ataupun kejelekan. Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

“Dua kalimat yang dicintai oleh ArRahman dan sangat ringan dalam lisan dan sangat berat dalam timbangan.

Dan hadits ini sangat nyata bahkan jelas sekali, bahwasanya yang ditimbang adalah amalannya dan nash– nash yang menjelaskan demikian itu banyak sekali. Akan tetapi di sana ada nash-nash yang menyelisihi dzahir hadits ini, di antaranya:

  1. Hadits pemilik Bithaqah (kartu)

Seorang laki-laki yang didatangkan di hadapan seluruh makhluk, kemudian dibentangkan atasnya amalan-amalannya dalam lembaran-lembaran yang mencapai 99 lembar, setiap lembaran panjangnya mencapai sejauh pandangan mata. Kemudian dia mengakuinya, kemudian dikatakan kepadanya: “Apakah engkau memiliki udzur atau kebaikan?” Dia berkata: “Tidak wahai Rabb”! maka Allah تعالى berkata: “Bahkan kau memilikinya, sesungguhnya engkau memiliki kebaikan di sisi Kami.” Maka didatangkanlah sebuah kartu kecil, yang di dalamnya tertulis Asyhadu alla ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah. Dia berkata: “Wahai Rabb, apalah artinya nilai kartu ini jika dibandingkan lembaran-lembaran dosaku?” Maka dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya engkau tidak akan didzalimi.” Maka diletakkanlah lembaran-lembaran dosanya pada daun timbangan, kemudian kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan lainnya. Maka terangkatlah lembaran-lembaran amalannya dan lebih berat kartunya.

Dzahir hadits ini menunjukkan yang ditimbang adalah lembaran-lembaran amalannya.

  1. Di sana juga ada nash lain, yang menunjukkan bahwasanya yang ditimbang adalah orangnya, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى :

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka itulah orangorang yang kafir kepada ayatayat Rabb mereka dan perjumpaan denganNya, maka terhapuslah amalanamalan mereka, maka Kami tidak akan menegakkan timbangan untuk mereka di hari kiamat.” [Qs. Al-Kahfi: 105]

Bersamaan dengan itu, terkadang dibantah pendalilan dengan ayat ini, dikatakan: Sesungguhnya makna firman Allah سبحانه وتعالى :

فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Maka Kami tidak akan menegakkan timbangan untuk mereka di hari kiamat. Artinya adalah kadar amalannya (orang kafir yang tidak ditimbang). Seperti apa yang tsabit dari hadits Ibnu Mas’ud رضي ال عنه, sesungguhnya dahulu beliau ketika memetik kayu siwak dari pohon arak, dan beliau itu memiliki dua betis yang kecil. Ketika angin mulai menyingkap betisnya, maka tertawalah para sahabat. Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda,

“Apa yang kalian tertawakan? Mereka berkata: (Kami tertawa) karena kecilnya dua betisnya. Maka Nabi berkata: Demi Zat yang jiwaku ada ditangannya, kedua betisnya itu di timbangan nanti lebih berat dibandingkan gunung Uhud.

Maka di sini ada tiga hal yang ditimbang: amalannya, orangnya, catatan amalnya.

Berkata sebagian ulama: Sesungguhnya cara mengkompromikan itu semua adalah: “Sesungguhnya ada di antara manusia yang ditimbang amalannya, sebagian lainnya ada yang ditimbang lembaran amalannya, sebagian lainnya ada yang ditimbang badannya.“

Berkata sebagian ulama lainnya: Sesungguhnya cara mengkompromikan itu semua: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan timbangan amalan adalah bahwasanya amalan yang ditimbang dalam keadaan berada di dalam lembaran amalan.” Tinggallah masalah timbangan orangnya yang ditimbang, ini terjadi pada sebagian manusia saja.

Akan tetapi jika kita cermati, kita mendapati kebanyakan nash menunjukkan bahwasanya yang ditimbang adalah amalannya, dan dikhususkan pada sebagian manusia, yang ditimbang adalah lembaran amalannya atau orangnya itu sendiri yang ditimbang.

Adapun yang diriwayatkan dalam hadits Ibnu Mas’ud رضي ال عنه dan hadits bithaqah maka terkadang ini adalah perkara yang Allah سبحانه وتعالى khususkan pada orang-orang yang Dia kehendaki dari para hambaNya saja.

(insya Allah bersambung)

 

Referensi bacaan:  

  • al-Qur’anul karim dan terjemahannya
  • Ada Apa Setelah Kematian?, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin رحمه اللة, Pustaka Al Isnaad Tangerang

 

Artikel terkait:

Perkara kelima dari apa-apa yang terjadi di hari Kiamat

(Baca tulisan sebelumnya) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه اللة berkata:

فَتُنْصَبُ الْمَوَازِيْنُ، فَتُوزَنُ بِهَا أَعْمَالُ الْعِبَادِ

“Maka akan ditegakkan timbangan-timbangan, dan akan ditimbang dengannya amalan-amalan hamba.”

Continue reading “Perkara kelima dari apa-apa yang terjadi di hari Kiamat”

Perkara keempat yang terjadi pada Hari Kiamat

(Baca tulisan sebelumnya) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin رحمه اللة mengisyaratkan dalam ucapannya:

وَيُلْجِمُهُمُ الْعَرَقَ

“Dan Manusia tenggelam oleh keringatnya sampai mulutnya.”

Akan tetapi ini adalah keringat yang paling tinggi karena sebagiannya ada yang hanya sampai kedua mata kakinya dan sampai kedua lututnya. Dan ada yang sampai pinggangnya, dan sebagiannya juga ada yang sampai mulutnya. Dan manusia itu bermacam-macam kadar keringatnya.

Continue reading “Perkara keempat yang terjadi pada Hari Kiamat”

Sekelumit tentang tanda-tanda Kiamat

Al Bukhari رحمه اللة meriwayatkan dari Abu A Yaman, dari Syuaib, dari Abu Az-Zinad, dari A A’raj, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Kiamat tidakakan terjadi jika telah banyak orang yang berbicara panjang lebar di atas gedung-gedung.” [HR. Ahmad, 10438]
Continue reading “Sekelumit tentang tanda-tanda Kiamat”

Perkara ketiga yang terjadi di hari kiamat: Manusia tenggelam oleh keringatnya

(Baca tulisan sebelumnya) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin رحمه اللة mengisyaratkan dalam ucapannya:

وَتَدْ نُو مِنْهُمُ الشَّمْسُ

“Dan Matahari akan didekatkan kepada mereka.”

Yakni didekatkan kepada mereka sejauh satu mil. Dan jarak satu mil tersebut sama saja, apakah satu mil jarak perjalanan (1 mil = +1,6 km) atau satu mil (seperti batang/stick untuk memakai celak mata), yang demikian itu sangat dekat. Continue reading “Perkara ketiga yang terjadi di hari kiamat: Manusia tenggelam oleh keringatnya”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑