Search

Risalah

Kajian Islam

Category

Bid’ah

Panduan perayaan Maulid Nabi

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Alloh memberi pemahaman kepadamu- bahwa perayaan maulid Nabi tidaklah dikenal di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam , para sahabat, para tabiin dan tabi’ut tabiin. Dan tidak dikenal oleh Imam-imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i sekalipun karena memang perayaan ini adalah perkara baru (baca: bid’ah).

Continue reading “Panduan perayaan Maulid Nabi”

Berdzikir sambil nyanyi & joget-joget

Allah ta’ala berfirman,

فاذكروني أذكركم

“Maka berdzikirlah mengingat-Ku, maka Aku akan mengingatmu.” (QS. Al Baqarah : 152)
Continue reading “Berdzikir sambil nyanyi & joget-joget”

Inilah hujjah (dalil) akan bid’ahnya Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam

Abu Bakar radhiallahu anhu memerintah selama 2 tahun, dan tidak pernah beliau merayakan Maulid sedangkan beliau adalah Ash-Shiddiq umat ini, dan yang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Gua Tsur.

Continue reading “Inilah hujjah (dalil) akan bid’ahnya Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam”

Antara Cinta Rasul & Perayaan Maulid

Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?

Continue reading “Antara Cinta Rasul & Perayaan Maulid”

Peristiwa Karbala dalam pandangan Ahlussunnah wal-Jama’ah

Menyikapi peristiwa wafatnya Husain رضي الله عنهما, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain رضي الله عنهما, manusia terbagi menjadi tiga: dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.”

Continue reading “Peristiwa Karbala dalam pandangan Ahlussunnah wal-Jama’ah”

Lahirnya ajaran Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat Haqiqat Ash Shufiyyah hal. 14). Continue reading “Lahirnya ajaran Tasawuf”

Hakikat dan definisi tasawuf/sufi

Istilah “sufi” atau “tasawuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah صلی الله عليه وسلم.

Continue reading “Hakikat dan definisi tasawuf/sufi”

Tercelanya bid’ah dan buruknya tempat kembali para pelaku bid’ah (3)

(Baca tulisan sebelumnya) Sesungguhnya semua hal yang telah diterangkan oleh syariat dan ayat Al Qur’an, tentang mengikuti hawa nafsu, dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Hawa nafsu mengikuti perintah dan larangan. Hal itu akan membuat pelakunya tidak tersesat dan tercela, sebab ia lebih mengedepankan petunjuk yang menerangi jalan bagi hawa nafsunya. Seperti inilah kondisi seorang mukmin yang bertakwa.
  2. Hawa nafsu menjadi tujuan utama, sedangkan perintah dan larangan hanya mengikutinya. Padahal, ia mengikuti atau tidak, posisinya tetap tercela.

Continue reading “Tercelanya bid’ah dan buruknya tempat kembali para pelaku bid’ah (3)”

Tercelanya bid’ah dan buruknya tempat kembali para pelaku bid’ah (2)

(Baca tulisan sebelumnya) 3. Orang yang berbuat bid’ah telah membangkang terhadap syariat dan mendatangkan kesulitan baginya —untuk mempelajari dan mengamalkan—, karena pembuat syariat telah menetapkan ketentuan-ketentuan bagi setiap hamba dari jalur yang khusus dan pada sisi-sisi yang khusus pula. Pembatasnya hanya berbentuk perintah dan larangan, pahala dan siksa, serta pemberitahuan bahwa kebaikan adalah ketika mengikuti syariat dan keburukan adalah ketika melampaui batas. Allah Maha Mengetahui dan kita tidak mengetahui. Dia telah mengutus Rasulullah صلي الله عليه وسلم sebagai rahmat untuk alam semesta. Orang yang membuat bid’ah telah menolak semua perkara tersebut dan menyangka masih ada jalan-jalan lain yang tidak dibatasi oleh syariat dengan batasan dan ketentuan tertentu. Ia menyangka bahwa dirinya mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh pembuat syariat.

Continue reading “Tercelanya bid’ah dan buruknya tempat kembali para pelaku bid’ah (2)”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑