Saif bin Umar at-Tamimi berkata, Diriwayatkan dari Abu Dhamrah dari bapaknya dari Ashim bin Adi, dia berkata, “Salah seorang pesuruh Abu Bakar berseru di tengah-tengah manusia setelah Rasulullah صلي الله عليه وسلم wafat, ‘Hendaklah pasukan Usamah segera berangkat, ingatlah tidak seorangpun dari pasukan Usamah yang boleh tinggal di Madinah, melainkan harus pergi ke Juruf, pangkalan militer pasukan Usamah’.”

Setelah memuji Allah, Abu Bakar رضي الله عنه berpidato di hadapan kaum muslimin, “Wahai saudara-saudara sekalian, sesungguhnya aku adalah seperti kalian juga, dan aku tidak tahu apakah sanggup memikul beban yang kalian letakkan di pundakku sebagaimana Rasulullah صلي الله عليه وسلم mampu memikulnya. Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad atas sekalian alam, dan Allah menjaganya dari segala kegagalan. Sementara aku hanyalah seorang yang berusaha mengikut jejak beliau dan aku bukanlah pembuat bid’ah. Maka jika aku istiqamah di atas kebenaran tolong ikuti aku, tetapi jika aku keliru maka luruskan diriku.

Sesungguhnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah wafat dan tidak seorangpun dari umat ini menuntut kezhaliman yang beliau lakukan terhadapnya baik berupa pukulan dengan cambuk ataupun yang lebih ringan dari itu. Ingatlah, sesungguhnya aku selalu disertai setan yang selalu berusaha menggodaku. Jika setan mendatangiku tolong agar aku dijauhkan darinya. Aku berusaha untuk tidak menyakiti kalian sedikitpun walau seujung kuku.

Dan sesungguhnya kalian setiap pagi dan sore selalu dibayang-bayangi ajal yang akan menjemput sementara kalian tidak mengetahuinya. Maka jika sanggup janganlah kalian melewati waktu-waktu kecuali mengisinya dengan amal shalih. Yakinlah kalian tidak akan mampu melakukan amal-amal tersebut kecuali dengan izin Allah. Berlombalah dalam kebaikan sebelum ajal menghalangi kalian beramal. Sebab banyak orang yang lupa kepada ajalnya, dan selalu menunda-nunda amalan mereka untuk masa depannya. Maka jangan kalian tiru mereka, bersungguh-sungguhlah kalian dan berusahalah menyela-matkan diri (dari adzab Allah).

Sesungguhnya di hadapan kalian telah menunggu ajal yang selalu mengejar kalian dan akan datang dengan cepat. Oleh karena itu wasapadalah terhadap kematian dan banyak-banyaklah mengambil pelajaran dari apa yang telah menimpa bapak-bapak kalian serta saudara-saudara kalian. Janganlah kalian merasa cemburu terhadap orang yang hidup kecuali sebagaimana kalian cemburu kepada orang-orang yang telah mati.

Referensi bacaan:

  • Al-Bidayah Wan-Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Darul Haq – cetakan I – 2004, Jakarta

 

Artikel terkait:

Advertisements