Dzul Qa’dah adalah salah satu dari empat bulan haram yang diistimewakan dan disucikan oleh Allah سبحانه وتعالى. Selain itu, bulan Dzul Qa’dah juga merupakan salah satu dari bulan-bulan Haji (asyhrul hajj) yang dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ‌ مَّعْلُومَاتٌ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui…” [Qs. al-Baqarah: 197]

Dalam Tafsir Ibni Katsir (II/5, 356) dikemukakan bahwa asyhur ma’lumaat (bulan-bulan yang telah diketahui) merupakan bulan yang tidak sah ihram menunaikan haji kecuali pada bulan-bulan ini. Dan ini pendapat yang benar (shahih).

Di antara keistimewaan bulan Dzul Qa’dah, bahwasannya pada bulan ini Rasulullah صلي الله عليه وسلم menunaikan ibadah umrah hingga empat kali, dan ini termasuk umrah beliau yang diiringi ibadah haji. Meskipun ketika itu beliau صلي الله عليه وسلم berihram pada bulan Dzul Qa’dah dan menunaikan umrah tersebut di bulan Dzul Hijjah bersamaan dengan haji. [Lathaa-iful Ma’aarif, karya Ibnu Rajab]

Imam Ibnul Qayyim رحمه اللة menjelaskan bahwasannya menunaikan umrah di bulan-bulan haji sama halnya dengan menunaikan haji di bulan-bulan haji. Bulan-bulan haji ini dikhususkan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah haji, dan Allah mengkhususkan bulan-bulan ini sebagai waktu pelaksanaannya. Sementara umrah merupakan haji kecil (hajjun ashghar). Maka, waktu yang paling utama untuk umrah adalah pada bulan-bulan haji. Sedangkan Dzul Qa’dah berada di tengah-tengah bulan haji tersebut. [Zaadul Ma’aad II/96]

Karena itu, terdapat riwayat dari beberapa ulama Salaf bahwa mereka suka menunaikan umrah pada bulan Dzul Qa’dah. [Lathaa-iful Ma’aarif hal. 456] Akan tetapi, ini tidak menunjukkan bahwa umrah di bulan Dzul Qa’dah lebih utama dari pada umrah di bulan Ramadhan. Karena telah jelas dalil-dalil tentang besarnya keutamaan umrah di bulan Ramadhan sebagaimana yang telah dijelaskan. [lihat juga Zaadul Ma’aad II/95-96]

Di antara keistimewaan lain dari bulan Dzul Qa’dah, bahwa Allah سبحانه وتعالى berjanji kepada Nabi Musa عليه السلام untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzul Qa’dah, ditambah sepuluh malam di bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. [Tafsir Ibni Katsir II/244]

Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…” [Qs. al-A’raaf: 142]

Referensi bacaan:

  • “Ritual Sunnah Setahun,” Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله , Media Tarbiyah – Jakarta
Advertisements