Pada tulisan sebelumnya telah dibahas poros persebaran Syi’ah di Jakarta, berikutnya adalah poros Syi’ah di Pekalongan – Semarang, Jawa Tengah. Sejak dulu kota-kota utama di wilayah Pantura memang menjadi pusat konsentrasi komunitas Arab. Untuk kawasan Jawa Tengah, terdapat dua pusat kegiatan Syi’ah yakni Semarang dan Pekalongan. Bahkan komunitas Syi’ah di Semarang secara terbuka melakukan shalat Jum’at ala Syi’ah di musholla Al-Husainiyah, Nurul Tsaqalain yang terletak di Jl. Book Lama No. 2 Semarang Utara. Masjid ini dikelola oleh Yayasan Nurul Tsaqalain yang diketuai oleh Achmad Alatas.

Sementara Ponpes Al-Hadi di Pekalongan yang dipimpin oleh Ahmad Baraqbah merupakan satu-satunya Ponpes yang dikelola dengan sistem pendidikan ala Hawzah Ilmiyah di Qom, Iran. Seluruh mata pelajaran adalah bidang agama. Komunitas Syi’ah Pekalongan umumnya berdomisili di kampung Arab yang terkonsentrasi di tiga kelurahan: Klego, Krapyak, dan Sugih Waras, kota Pekalongan Timur. Penganut Syi’ah Pekalongan memang didominasi keturunan Arab, tapi ada juga beberapa waga asli Indonesia.

Ponpes Al-Hadi Pekalongan didirikan pada tahun 1409 H/1988 M beralamat di Jl. agus Salim, Gang 5 No. 4 RT 01 RW 03, Kelurahan Klego, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Lokasinya terletak di tengah kota di wilayah yang dikenal dengan kampung Arab dengan luas lahan sekitar 1,5 hektar. Ponpes ini dikelilingi 3 ruas jalan utama, namun tidak terdapat plang nama Ponpes Al-Hadi. Sehingga tidak aneh, jika warga Pekalongan non-Arab jarang yang mengenalnya.

Bahkan tukang-tukang becak yang biasa mangkal di tiga kelurahan itu juga tidak banyak yang mengetahui keberadaan Ponpes itu. Pimpinan Ponpes Al-Hadi terdiri dari Ahmad Baraqbah dan Thoha Musawa. Jumlah santrinya pada Juni 2008 sekitar 60-an orang. Semua mata pelajaran adalah agama dan tak ada pelajaran umum. Tahun ajaran dimulai tanggal 15 Syawal setiap tahun. Santri umumnya menjalani pendidikan sekitar 4 tahunan. Umumnya alumni Ponpes ini diproyeksikan untuk melanjutkan pendidikan ke Iran.

Yang menarik tidak ada bangunan masjid di dalam lokasi pondok. Acara Kumail yang biasa dilakukan tiap malam Jum’at juga tidak dilaksanakan di dalam pondok, tapi disebuah rumah di belakang yang terpisah dari pondok.

Pada tahun 1998 Ponpes Al-Hadi mendirikan cabang di lahan seluas 6.500 m2 terletak di desa Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. rencananya, cabang itu dikhususkan untuk santri putra, sementara santri putri tetap di Pekalongan. Namun ia hanya efektif berjalan selama 2 tahun (1998-2000) sebab diprotes oleh warga di sekitar Ponpes karena dituding menyebarkan aliran sesat, dan akhirnya ditutup pada tahun 2000. Sebagian besar biaya pembangunan Ponpes Al-Hadi baik di Pekalongan dan Batang itu diperoleh dari luar negeri, khususnya dari Iran, Lebanon, dan komunitas Syi’ah lainnya di Arab Saudi dan Bahrain.

Tidak ada data yang pasti tentang jumlah komunitas Syi’ah di Pekalongan. Namun, dalam acara ritual Kumail cuma dihadiri sekitar 40 orang laki-laki. Jumlah santri di Ponpes Akl-Hadi juga hanya sekitar 60-an santri, putra dan putri.

Poros Yogyakarta

Salah satu penggerak kegiatan Syi’ah di Yogyakarta adalah Yayasan Rausyan Fikr. Dibandingkan dengan pusat kegiatan Syi’ah lainnya, Rausyan Fikr termasuk yang paling agresif dalam melakukan kegiatan. Pengajian dilaksanakan setiap hari, dengan tema yang beragam. Di Yogya juga terdapat organisasi Syi’ah yang dimotori oleh kelompok muda Alawiyin yang tergabung dalam perkumpulan Al-Amin, dan sudah melangkah lebih jauh.

Meskipun sebagian anggota Al-Amin keberatan disebut organisasi Syia’h. Kelompok Al-Amin ini berawal dari ajang silaturahim perkumpulan sayyid dan syarifah perantau dari berbagai daerah di tanah air yang menuntut ilmu di Yogyakarta, dan cukup solid menggelola organisasinya.

Tabel lembaga Syi’ah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta

  1. Forum Wasiat, Tegal
  2. Ponpes Al-Hadi, Pekalongan
  3. Yayasan Al-Amin, Yogyakarta
  4. Yayasan Al-Amin, Semarang
  5. Yayasan Nurul Tsaqalain, Semarang Utara
  6. Yayasan Al-Khairat, Demak
  7. Yayasan Al-Mawaddah, Kendal
  8. Yayasan al-Muhibbin, Probolinggo
  9. Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo
  10. Yayasan Al-Mustafa, Pekalongan
  11. Yayasan Al-Wahdah, Solo
  12. Yayasan Dar Taqrib, Jepara
  13. Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo
  14. Yayasan Rausyan Fikr, Yogyakarta

 

Referensi bacaan:

  • Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat

Artikel terkait:

Advertisements