Abdul Warits meriwayatkan dari Abu Amru bin al-Ala dari ayahnya, ia berkata, “Ali berkata dalam khutbahnya, ‘Wahai sekalian manusia, demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia. Aku tidaklah mengambil harta kalian sedikit maupun banyak kecuali ini.’ Kemudian beliau mengeluarkan botol kecil berisi parfum dari saku bajunya lalu beliau berkata, ‘Ad-Dihqaan menghadiahkan ini untukku.’

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zurair al-Ghafiqi, ia berkata, “Kami datang menemui Ali pada hari ‘Iedul Adha. Lalu beliau menghidangkan khazirah kepada kami. Kami berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, alangkah baik bila engkau hidangkan kepada kami bebek dan angsa ini. Karena Allah telah menurunkan kebaikan yang sangat banyak.

Ali berkata, ‘Wahai Ibnu Zurair, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Tidak halal bagi khalifah mengambil bagian dari harta Allah (maksudnya harta baitul mal) kecuali dua piring saja. Satu piring untuk ia makan bersama keluarganya dan satu piring lagi untuk ia berikan kepada orang lain.” [HR. Ahmad dalam al-Musnad, 1/78,

Abu Ubaid berkata,”Abad bin Awam telah menceritakan kepada kami dari Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku datang menemui Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه di al-Khurnaq, beliau mengenakan selimut beludru sambil gemetar menahan dingin. Aku berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesung-guhnya Allah telah memberikan bagian untukmu dan keluargamu dari harta ini (baitul mal), mengapa anda memilih selimut tipis ini untuk dirimu?’ Ali berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku tidak akan mengambil harta kalian sedikitpun. Selimut inilah yang kubawa dari rumahku -atau beliau mengata-kan, dari Madinah-.”

Ya’qub bin Sufyan berkata, “Abu Bakar al-Humaidi telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Abu Hayyan telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Dari Mujami’ bin Sam’an at-Taimi, ia berkata, ‘Ali keluar dari rumahnya ke pasar dengan membawa pedangnya. Beliau berkata, ‘Siapakah yang mau membeli pedangku ini? Sekiranya aku punya uang empat dirham untuk membeli sarung niscaya aku tidak akan menjualnya’.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abad bin Awam dari Hilal bin Khabab dari Maula Abu ‘Ushaifir, ia berkata, “Aku melihat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه keluar menemui seorang lelaki penjual kain kasar. Ali berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menjual gamis sunbulani. Lelaki itu mengeluarkan sepotong gamis lalu Ali pun mengenakannya, ternyata panjang gamis itu sampai ke tengah betisnya. Beliau melihat ke kanan dan ke kiri lalu berkata, ‘Aku lihat ukurannya sudah cocok, berapa harganya?’

Lelaki itu berkata, ‘Empat dirham wahai Amirul Mukminin!’ Beliaupun mengeluarkan uang dari sarungnya dan menyerahkannya kepadanya kemudian beliau pergi.”

Muhammad bin Sa’ad berkata, “Al-Fadhl bin Dukkain telah menceritakan kepada kami, ia berkata, al-Hur bin Jurmur telah menceritakan kepada kami bahwa ayahnya berkata, ‘Aku melihat Ali keluar dari rumahnya dengan mengenakan dua helai kain Qithriyah, yaitu sarung sampai ke tengah betis dan selendang yang dilipat, beliau menuntun untanya di pasar sembari menganjurkan manusia agar bertakwa kepada Allah dan berjual beli dengan cara yang baik. Beliau berkata, ‘Sempurnakanlah takaran dan timbangan’.”

Amru bin Syimr meriwayatkan dari Jabir al-Ju’fi dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menemukan baju perangnya di tangan seorang lelaki Nasrani. Ali mengadukan lelaki itu kepada Syuraih. Ia mendatangi Syuraih lalu berkata, ‘Hai Syuraih, kalaulah lawanku itu seorang muslim niscaya aku akan duduk bersamanya. Akan tetapi ia adalah seorang Nasrani, Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda, ‘Jika kalian berpapasan dengan mereka di tengah jalan maka desaklah mereka ke pinggir jalan dan rendahkanlah mereka seperti Allah telah merendahkan mereka tanpa bersikap melampaui batas.’

Kemudian Ali berkata, ‘Baju perang ini adalah milikku, aku tidak pernah menjual dan tidak pernah pula menghadiahkannya.’ Syuraih berkata kepada lelaki Nasrani itu, ‘Bagaimana tanggapanmu terhadap tuduhan Amirul Mukminin tadi?’

Lelaki Nasrani itu berkata, ‘Baju perang ini adalah milikku. Dan dalam pandanganku Amirul Mukminin bukanlah seorang pendusta.’ Syuraih menoleh kepada Ali dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin; adakah bukti-bukti atas tuduhanmu?’ Ali tertawa sembari berkata, ‘Syuraih benar, aku tidak punya bukti.’

Syuraih memutuskan baju perang itu adalah milik lelaki Nasrani. Lalu lelaki Nasrani itu mengambilnya, ia berjalan beberapa langkah kemudian kembali dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum para nabi, Amirul Mukminin mengajukan diriku ke majelis hakim dan majelis hakim memutuskan hukum atas dirinya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Demi Allah, baju perang ini adalah milikmu wahai Amirul Mukminin, aku mengikuti pasukan ketika engkau berangkat ke peperangan Shiffin dengan mengendarai untamu yang berwarna abu-abu.’

Ali berkata, ‘Karena engkau sudah masuk Islam maka ambillah baju perang itu.’ Maka lelaki itupun membawanya dengan kudanya.”

Asy-Sya’bi berkata, “Orang-orang yang melihatnya menceritakan kepadaku bahwa ia ikut berperang bersama Ali melawan kaum Khawarij pada peperangan Nahrawan.”

Sa’id bin Ubaid meriwayatkan dari Ali bin Rabi’ah, ia berkata, “Ja’dah bin Hubairah datang menemui Ali dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, tadi datang dua orang lelaki kepadamu, yang pertama mencintaimu lebih daripada cintanya kepada keluarga dan hartanya. Sedang yang kedua, kalaulah ia sanggup menyembelihmu niscaya ia akan menyembelihmu. Lalu mengapa engkau putuskan memenangkan hukum untuk lelaki yang kedua atas lelaki yang pertama?!’ Ali menegurnya sembari berkata, ‘Kalaulah sekiranya hukum ini milikku tentu akan aku menangkan lelaki yang pertama. Namun hukum ini adalah milik Allah semata.’

Abul Qasim al-Baghawi berkata, “Kakekku menceritakan kepadaku, ia berkata, Ali bin Hasyim telah bercerita kepadanya dari Shalih, penjual goni bahwa neneknya berkata, ‘Aku pernah melihat Ali membeli kurma seharga satu dirham.

Lalu ia bawa dengan kain selimutnya. Seorang lelaki berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, biar aku saja yang memikulnya untukmu.’ Ali berkata, ‘Kepala keluarga lebih berhak untuk memikulnya’.”

Yahya bin Ma’in meriwayatkan dari Ali bin al-Ja’d dari al-Hasan bin Shalih, ia berkata, “Orang-orang sedang membicarakan tentang para zuhad (orang-orang zuhud) di hadapan Umar bin Abdil Aziz. Salah seorang berkata, ‘Si Fulan.’ Yang lain berkata, ‘Si Fulan.’ Lalu Umar bin Abdul Aziz angkat bicara,’Orang yang paling zuhud di atas dunia adalah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

 

Referensi bacaan:

  • Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung, Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه اللة, Darul Haq – Jakarta, cetakan IX
  • Ringkasan Al-Bidayah Wan-Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه اللة, Pustaka As-Sunnah – cetakan I, Jakarta

 

Artikel terkait:

Advertisements