Seluruh ulama Islam meyakini bahwa seluruh sahabat Rasul صلي الله عليه وسلم adalah orang mulia yang dipuji Allah dalam al-Qur’an. (baca juga: Penyimpangan paham tentang Ahli Bait Rasul dan mengkafirkan Sabahat Nabi صلي الله عليه وسلم) Sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [Qs. at-Taubah: 100]

Dalam surat al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [Qs. al-Fath: 18]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah صلي الله عليه وسلم menegaskan larangan mencela para sahabat. Abi Sa’id al-Khudri  رحمه اللة, berkata: Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci para sahabatku, andaikan kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung uhud, maka hal itu tidak bisa mengimbangi sedekah yang dikeluarkan para sahabat satu mud saja atau separohnya.” [Muttafaq ‘Alayhi]

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad  رحمه اللة dijelaskan:

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Hati-hatilah terhadap sahabat-sahabatku, hati-hatilah terhadap sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran cacian setelahku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka berarti mereka telah mencintaiku dan barangsiapa yang membenci mereka, maka berarti telah membenciku.”

Secara khusus Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم menjanjikan dan menjamin surga untuk 10 orang sahabatnya yang paling utama, Khulafa’ Rasyidun termasuk di dalamnya. Dalam sebuah hadits disabdakan,

“10 orang akan masuk surga: Abu Bakr masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Azzubair masuk surga, ‘Abdurrahman bin Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id bin Zaid masuk surga dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah masuk surga.” [HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Hibban]

Seluruh sahabat adalah manusia yang mulia setelah Nabi, sebab mereka telah mengikuti Rasul صلي الله عليه وسلم dalam berdakwah, dan telah mengorbankan jiwa, raga dan harta demi agama Allah, sehingga umat Islam menjadikan mereka suri teladan setelah baginda Rasulullah صلي الله عليه وسلم.

Aqidah Islam, sebagaimana dinyatakan Imam Abu Ja’far at-Thahawi  رحمه اللة (wafat 321 H), menurut supaya, “Kita mencintai para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan tidak berlebihan dalam mencintai para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang mereka, kita tidak berlepas diri dari mereka. Kita membenci orang yang mencintai mereka (para sahabat) dan yang menyebut mereka tidak baik. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman dan ikhsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap melampaui batas.” [al-‘Aqidah al-Thahawiyah dan syarahnya karya Ibnu Abi al-‘Izz]

Imam Sa’duddin at-Taftazani (712-791 H) menulis, “Dan wajib memuliakan para sahabat, menahan lidah dari kekeliruan mereka, dan mengarahkan opini negatif tentang mereka kepada maksud dan pentakwilan yang baik, terutama atas kaum Muhajirin, Anshar, ahli bai’at Ridhwan, para pahlawan Badar dan Uhud, serta Hubaibiyah. Sungguh ijma’ ulama telah tegak akan ketinggian derajat mereka, dan disaksikan oleh ayat-ayat suci yang tegas dan hadits-hadits yang shahih, rinciannya dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadits, sejarah dan keutamaan mereka.” [Syarah al-maqashid]

Oleh sebab keutamaan itulah, para Sahabat Nabi dinilai adil (saleh) oleh para ulama. Ijma’ ulama tentang keadilan sahabat itu diutarakan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al-Isti’ab (1/19), Muqaddimah Ibnu Sholah (hal. 294-295), An-Nawawi dalam Tadrib Ar-Rawi Syarh Taqrib An-Nawawi (vol. 2, hal. 124). Keadilan Sahabat bermakna diterimanya periwayatan mereka tanpa perlu bersusah payah mencari sebab-sebab keadilan dan kebersihan mereka. [Fathul Mughits bi Syarh Alfiyyat al-Hadits]

Al-Khatib al-Baghdadi menulis, “Jika tidak ada nash al-Qur’an dan hadits Nabi yang telah kami sebutkan, maka keadaan mereka yang telah berhijrah, berjihad, menolong agama, mengorbankan nyawa dan harta mereka, membunuh orang tua dan anak mereka –dalam membela aqidah–, nasehat dalam agama, kekuatan iman dan lainnya, telah memastikan keadilan dan kebersihan diri mereka. Sungguh para sahabat lebih utama dari semua orang yang dinilai adil dan direkomendasikan riwayatnya, yaitu mereka yang hidup setelah masa mereka selamanya. [al-Kifayah fi Ma’rifat Ilmi Riwayah]

Dalam pandangan ulama empat mazhab, tindakan mencaci apalagi mengkafirkan sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم sangat tercela dan dikecam. Dari kalangan ulama Hanafiyah, “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat ‘Syaikhaini’ maka dia kafir, demikian halnya dengan pengkafiran terhadap Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan ‘Aisyah  رضي الله عنه (juga adalah kafir). [al-Fatawa al-Hindiyyah]

Dari kalangan ulama malikiyah, Imam Malik  رحمه اللة berkata: “Jika dia berkata bahwa para sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash رضي الله عنه) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat.” [al-Qadhi ‘Iyadh, as-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa]

Dari kalangan ulama Syafi’iyah, “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengkafirkan sahabat.” [Raudhat at-Thalibin]

Dari kalangan ulama Hanabilah, “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi telah murtad atau fasik setelah Nabi wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir.” [Muktashar as-Sharim al-Maslul ‘ala Syatimi ar-Rasul]

Dengan demikian Syi’ah telah mengkhianati dalil al-Qur’an dan hadits Rasul, dan menyalahi keyakinan mayoritas umat Islam.

Seperti dimaklumi, tindakan melaknat dan mencaci sahabat dan istri Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم termasuk salah satu dari 3 kriteria tambahan pedoman identifikasi aliran sesat yang difatwakan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yaitu:

  1. Meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  2. Melakukan pensyarahan terhadap hadits tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu Mushthalah hadits.
  3. Menghina dan atau melecehkan para Sahabat Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم.

(kumpulan Undang-undang, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah [Qanun], Peraturan Gubernur, Fatwa MPU, Keputusan MPU dan taushiyah MPU, hal. 462)

 

Referensi bacaan:

  • Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat

 

Artikel terkait: