Banyak sekali adab-adab yang yang harus dilakukan oleh seorang hamba dalam memanjatkan doa, agar permohonannya dikabulkan. Salah satunya adalah adanya larangan berupa ucapan “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau berkenan”. Penekanan pada kalimat “jika Engkau berkenan” inilah yang dilarang seperti dalam hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلاَ يَقُلْ : اللَّـهُمَّ اغْفِرْ لِـيْ إِنْ شِئْتَ ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْـمَسْأَلَةَ ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ ، فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Jika salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia berkata, ‘Ya Allah عزوجل , ampunilah aku jika Engkau berkehendak,’ namun hendaklah ia serius dalam meminta dan memperbesar keinginan, karena Allah عزوجل tidaklah dimintai dengan serius dan sungguh-sungguh melainkan Dia memberinya.” [HR. Muslim No. 2679]

Berbeda dengan seorang hamba, dia kadang memberi kepada peminta apa yang dia minta sebab dia berhajat kepadanya, takut atau berharap kepadanya sehingga dia memberi apa yang dia minta sementara dia terpaksa. Maka yang patut bagi orang yang meminta kepada makhluk agar menggantungkan terwujudnya hajatnya kepada kehendak orang yang diminta (seperti dibarengi dengan ucapan, “jika anda berkenan”), karena khawatir dia memberi dalam keadaan terpaksa.

Lain halnya dengan Rabb alam semesta, hal itu tidak patut bagiNya karena kemandirianNya yang sempurna dari seluruh makhluk, kemurahan dan kedermawananNya yang sempurna. Seluruh makhluk memerlukanNya, bergantung kepadaNya dan tidak berlepas diri dariNya sekejap pun. Dalam hadits,

عن أبي هريرة  رضي الله عنهقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار. وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده. وقال وكان عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع). أخرجاه في الصحيحين

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata telah bersabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم, “Tangan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan-Nya. ‘Arasy-Nya berada di atas air. Dan pada tangan-Nya yang lain ada timbangan, ia turunkan dan ia angkat.'” [HR. Muslim  dari Abu Hurairah رضي الله عنه]

Allah سبحانه وتعالى memberi karena suatu hikmah dan tidak memberi karena suatu hikmah, Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Maka siapa yang meminta kepada Allah sudah sepantasnya dia menegaskan permintaannya, sebab Dia tidak memberikan sesuatu kepada hambaNya karena terpaksa dan bukan juga karena besarnya permintaan.

Semua yang kita peroleh di dunia berupa nikmat-nikmat, walaupun sebagian darinya melalui tangan makhluk, namun ia adlaah berkat ijin Allah, kehendakNya dan kebaikanNya kepada hambaNya. Allah adalah Yang Terpuji atas seluruh nikmat, Dia-lah yang menghendakinya, mentakdirkannya dan mengalirkannya dengan kedermawanan, kemurahan dan kebaikanNya. BagiNya segala nikmat, karunia, dan pujian yang baik. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

 وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” [Qs. An-Nahl: 53]

Terkadang Allah tidak memberi hambaNya jika dia memohon karena suatu hikmah dan Dia mengetahui apa yang baik bagi hambaNya, apakah memberi atau tidak memberi, terkadang Allah      تعالى menunda permintaan hambaNya ke waktu yang Dia inginkan atau karena Dia ingin memberi yang lebih banyak. Mahasuci Allah Rabb alam semesta.

Dalam riwayat Muslim, “Hendaknya dia membesarkan harapannya. Yakni dalam meminta hajatnya kepada Rabbnya, karena Dia memberikan yang besar dengan kemurahanNya, kebaikan dan kedermawananNya. Allah tidak merasa bahwa apa yang Dia berikan adalah besar, tidak ada sesuatu yang besar bagi Allah walaupun ia besar di dalam jiwa makhluk. Orang meminta kepada makhluk, dia tidak meminta kepadanya kecuali sesuatu yang ringan baginya untuk memberikannya, berbeda halnya dengan Rabb semesta alam, pemberianNya adalah sempurna,

إِنَّمَا أَمْرُ‌هُ إِذَا أَرَ‌ادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” [Qs. Yasin: 82]

Mahasuci Allah yang telah meletakkan takdir untuk makhlukNya, tidak ada tuhan yang haq selainNya, tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Dia.

 

Referensi bacaan:

  • al-Qur’anul karim dan terjemahan
  • Fathul Majid: Penjelasan Lengkap Kitab Tauhid, (terjemahan), Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Darul Haq, Jakarta, Cetakan V
Advertisements