Dalam pengertian syar’i, sedekah yaitu pemberian yang diniatkan untuk mendapatkan pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى . Jadi, sedekah adalah mengeluarkan harta untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى . Al-Allamah al-Ashfahani mengatakan, “Sedekah adalah harta yang dikeluarkan manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, seperti zakat. Tapi shadaqah, pada asalnya, digunakan untuk menamai pemberian yang bersifat anjuran, sedangkan zakat untuk suatu yang diwajibkan.

Sedekah yang tulus karena Allah سبحانه وتعالى menjadi simpanan abadi yang manfaatnya berkelanjutan, sebagaimana Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang tercinta telah menyampaikannya kepada kita. Sebab nafkah yang dikeluarkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, adalah perniagaan yang tidak rugi. Ia adalah perniagaan yang selamanya menguntungkan berupa keberkahan di dunia, sebagaimana firman Allah تعالى :

 وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ‌ الرَّ‌ازِقِينَ …

“… Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” [Qs. Saba’: 39]

Sedekah bukan zakat, bukan hibah, bukan pula pemberian. Jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan memberikan balasannya. Karena itu, semestinya orang yang bersedekah tidak menyebut-nyebut sedekahnya. Dalam pengertian, berharap terima kasih dari orang yang ia beri sedekah.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

… قَوْلٌ مَّعْرُ‌وفٌ وَمَغْفِرَ‌ةٌ خَيْرٌ‌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)…” [Qs. Al-Baqarah: 263]

… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِ‌ئَاءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” [Qs. Al-Baqarah: 264]

Jadi, orang yang menyebut-nyebut sedekahnya itu tidak mengharapkan Wajah Allah. Tapi mengharapkan terima kasih dari manusia. Dalam hadits disebutkan: “Kata-kata yang baik adalah sedekah, dan termasuk kebaikan ialah engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”

Allah سبحانه وتعالى telah menyebutkan delapan golongan dalam al-Qur’an yang berhak menerima sedekah (yakni zakat yang menjadi hak orang-orang yang tersebut dalam al-Qur’an) lewat firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَ‌اءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّ‌قَابِ وَالْغَارِ‌مِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِ‌يضَةً مِّنَ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Qs. At-Taubah: 60]

  1. Orang-orang fakir (fuqara’), yaitu orang-orang yang memiliki kurang dari satu nasab, atau memiliki satu nasab yang bercampur dengan utang.
  2. Orang-orang miskin (masakin), yaitu orang-orang yang tidak memiliki suatu apa pun dan tidak mampu bekerja untuk mendapatkan harta yang dapat mencukupi kebutuhan mereka.
  3. Para pengurus zakat (al-amilun alaiha), yaitu orang-orang yang bertugas untuk mengumpulkan zakat. Mereka ini, meskipun kaya, diberi harta zakat sebagai upah atas pekerjaan mereka.
  4. Para mu’allaf yang dibujuk hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum). Yaitu orang-orang yang baru masuk Islam, mereka diberi zakat untuk menguatkan hati mereka.
  5. Untuk memerdekakan budak (fi ar-riqab), yaitu hamba sahaya yang tidak punya jalan untuk memerdekakan diri mereka atau tawanan perang.
  6. Orang-orang yang berutang (al-gharimun), yaitu orang-orang yang memiliki utang yang tidak sanggup mereka lunasi. Tapi mereka bukan berutang untuk berlebih-lebihan dan berfoya-foya.
  7. Untuk jalan Allah (fi sabilillah), yaitu pihak yang bersifat umum yang ditentukan oleh negara. Di antaranya untuk menyiapkan para mujahid, mengobati orang-orang yang sakit, dan melatih orang-orang yang tidak mampu.
  8. Orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), yaitu orangyang berada di suatu tempat tanpa memiliki tempat tinggal dan makanan. Ia memiliki harta di tanah airnya, namun ia kehabisan bekalnya. Masyarakat berkewajiban memeliharanya, mencari tahu tentang ihwalnya, dan memberi bantuan kepadanya.

Demikianlah delapan golongan yang berhak menerima sedekah berdasarkan firman Allah  سبحانه وتعالى dalam al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60. Hal yang penting untuk ditekankan adalah, bahwa setiap amalan haruslah dilandasi dengan niat yang tulus dan ikhlas. Karena hal itulah yang menentukan amalan kita diterima atau tidak di sisi Allah سبحانه وتعالى .

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ  يقول: ((إِنّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امرَأَةٍ يِنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)) متفق عَلَى صحته

Dari Amirul Mukminin Abi Hafsh Umar bin Khatab رضي الله عنه, dia berkata: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya seseorang  akan mendapatkan apa yang ia niatkan, jika ia berniat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hijrah karena dunia (harta, dan lain-lain …) atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya untuk apa yang ia niatkan” Muttafaq ’alaih. [HR. Bukhari No: 54 dan Muslim No: 1907]

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga bersabda :

وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ صَخْرٍ t قاَلَ: قَالَ رَسُول اللَّه : ((إِنَّ اللَّهَ تَعَالىَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وأَعْمَالِكُمْ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: Sesungguhnya Allah I tidak memandang kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian tetapi Allah memandang kepada hati dan amal kalian’.” [HR. Muslim No. 2564]

 

Referensi bacaan:

  • al-Qur’an Karim dan terjemahannya
  • Ringkasan Fiqih Islam, Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri, IslamHouse.com
  • Sedekah Menolak Bala, Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi, Pustaka at-Tazkia, Jakarta

Artikel terkait:

Advertisements