Berikut ini adalah empat perkara penting yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Pertama, adalah Ilmu yang mencakup; mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Islam berdasarkan dalil-dalil. Ilmu yang dimaksud di sini yaitu ilmu syar’i, yaitu sesuatu yang hukumnya fardhu ‘ain mempelajarinya, yakni yang meliputi prinsip keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dihindari, serta bab tentang muamalat (interaksi sesama manusia).

Imam Al Bukhari mengatakan: “Bab ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.” Dalilnya adalah firman Allah سبحانه وتعالى:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Illah (Yang Hak), melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu, dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha, dan tempat tinggalmu.” [Qs. Muhammad: 19]

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) sebelum ucapan dan perbuatan. Sementara Allah سبحانه وتعالى ketika menjelaskan keutamaan ilmu serta keagungan kemuliaannya berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ 

“Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Qs. Az Zumar: 9]

Kedua, yaitu amal. Setelah berilmu, kewajiban berikutnya adalah mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti shalat, puasa, zakat, jihad, maupun iman dan takwa. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sehingga wajib bagi kita untuk mengetahui dan beramal dengan agama Islam ini. Kita pun wajib beramar ma’ruf dan nahimunkar, berbakti kepada orang tua dan menjalin silaturrahim, dan lain sebagainya.

Dua syarat ini disebutkan dengan jelas dalam akhir surat Al-Kahfi:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” [Qs. Al-Kahfi: 110]

Ketiga, dakwah. Mengajak umat manusia untuk berjalan di jalan Allah merupakan bagian dari ibadah yang agung dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti dakwah untuk mengajak manusia kepada hal yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Qs. Ali Imran: 104]

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Qs. Ali Imran: 110]

Karena dakwah merupakan ibadah, maka harus dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم sebab kedua perkara ini merupakan syarat diterimanya ibadah.

Keempat, sabar. Amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) memang bukan perkara mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslimin. Sesuai dengan tahapan (berilmu, beramal, dan berdakwah), tahapan yang tidak mudah yaitu bersabar dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu…” [Qs. Ali Imran: 200]

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” [Qs. Al-Baqarah: 155]

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنْزِيلاً – فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” [Qs. Al-Insaan: 23-24]

Karena itu setiap da’i atau ulama harus bersabar dan hanya mengharap pahala dari Allah (ikhlas), karena sabar itu sendiri ada 3 macam:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى.
  2. Sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah سبحانه وتعالى.
  3. Sabar atas ketentuan-ketentuan Allah, baik itu yang tidak ada usaha (kekuasaan) hamba di dalamnya, ataupun yang diberlakukan Allah سبحانه وتعالى melalui tangan-tangan sebagian hambaNya dalam bentuk gangguan dan penganiayaan.

Dalilnya:

 وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [Qs. Al ‘Ashr: 1-3]

Para ulama salaf telah sepakat bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban bagi setiap insan, namun hukumnya fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian telah melakukannya, maka gugur bagi yang lainnya.

 

Referensi bacaan:

  • Al-Qur-anul Karim dan terjemahannya
  • Agar Amalan Kita Diterima di Sisi Allah, muslim.or.id
  • Berdakwahlah Sesuai Kemampuan, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, rumaysho.com
  • Ilmu : Mengenal Allaah, mengenal NabiNya, dan mengenal Islaam dengan dalil-dalilnya, tigapokokislam.wordpress.com
  • Tiga Landasann Utama, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
  • Tugas Dakwah, Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari, almanhaj.or.id
  • Ulasan Tuntas tentang Tiga Prinsip Pokok Siapa Rabbmu? Apa Agamamu? Siapa Nabimu?, (terjemahan) hal. 9-25, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Haq – Jakarta, cetakan XIV
Advertisements